Sikat Korupsi Dana Desa tapi Humanis: Strategi “Shock Therapy” Jaksa Muda Samuel Naibaho di Perbatasan Utara
TALAUD, liputanmetronews.com — Menegakkan hukum di wilayah berjarak 270 kilometer dari ibu kota provinsi bukan perkara mudah.
Namun, jaksa muda Samuel Naibaho, S.H., M.H., berhasil mencuri perhatian publik Kabupaten Kepulauan Talaud melalui kombinasi strategi yang unik; penindakan tegas terhadap korupsi korporasi desa, sekaligus edukasi hukum yang menyentuh akar rumput.
Nama Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel) Kejari Kepulauan Talaud ini belakangan menjadi buah bibir setelah dirinya memimpin penyelidikan intensif terhadap 9 kepala desa di Talaud yang diduga terlibat dalam pusaran korupsi dana desa.
Langkah berani pria berusia 34 tahun ini seolah menjadi peringatan keras bagi para aparatur desa di wilayah tapal batas tersebut.
Menariknya, Samuel tidak ingin dikenal sebagai jaksa yang hanya menakut-nakuti lewat ruang sidang.
Di balik ketegasannya mengusut kasus hukum, pria kelahiran Bengkulu ini justru lebih sering terlihat turun langsung ke lapangan untuk berdialog dengan warga.
Lewat program “Jaksa Masuk Sekolah” dan “Jaksa Menyapa”, Samuel aktif membongkar sekat antara penegak hukum dan masyarakat.
Ada dua fokus utama yang menjadi misinya saat ini, yakni Penyelamatan Dana Desa, dimana ke para perangkat desa, ia blak-blakan menuntut transparansi anggaran serta mengingatkan mereka untuk waspada terhadap potensi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Dan saat turun ke sekolah-sekolah, ia gencar memberikan literasi hukum kepada pelajar agar terhindar dari kenakalan remaja, jeratan narkoba, hingga pelanggaran UU ITE akibat salah menggunakan media sosial.
“Kita lebih fokus pada pengawasan dan pencegahan, karena itu yang paling penting,” ujar alumni jaksa Kejari Rote Ndao NTT yang baru setahun bertugas di Sulawesi Utara ini, Sabtu (4/7/2026).
Bagi Samuel, keberhasilan penegakan hukum di perbatasan tidak melulu dihitung dari berapa banyak orang yang masuk penjara, melainkan seberapa patuh masyarakat terhadap aturan dalam kehidupan sehari-hari.
Pria yang gemar berolahraga ini menegaskan bahwa motivasinya menjadi jaksa adalah untuk mengabdi.
Ia ingin membuktikan bahwa institusi kejaksaan bisa menjadi garda terdepan yang edukatif, bukan sekadar lembaga yang menghukum.
“Saya berharap kita bisa bekerja sama dengan masyarakat agar menekan angka pelanggaran hukum,” tutupnya optimis.
Dengan pendekatan ganda ini—mengusut tuntas penyelewengan dana desa sembari mengedukasi warga sejak dini—Samuel Naibaho tengah membawa angin segar bagi penegakan hukum yang lebih bersih dan humanis di beranda utara Indonesia.
Tamura