akut Itu Ada, Tapi Harus Dikalahkan: Kisah ‘Om Damkar’ Menantang Kobaran Api di Manado

Manado, – Di tengah kepulan asap dan kobaran api, seorang petugas pemadam kebakaran harus tetap bergerak. Bukan karena tidak takut, tetapi karena ada kemungkinan seseorang membutuhkan pertolongan.

Hal itu yang dirasakan Hilario Mario Anlo, anggota Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Manado yang dikenal masyarakat melalui media sosial dengan sapaan “Om Damkar”.

Perjalanannya sebagai petugas pemadam dimulai pada Maret 2021 sebagai tenaga honorer. Pada 2025, ia resmi diangkat menjadi ASN. Baginya, menjadi petugas pemadam kebakaran bukan sekadar pekerjaan, tetapi kesempatan untuk menyelamatkan dan membantu masyarakat.

“Saya bangga menjalani pekerjaan sebagai ASN, apalagi terkait dengan menyelamatkan nyawa orang,” katanya saat ditemui di Pos Pemadam Kebakaran Kecamatan Mapanget.

Nama “Om Damkar” sendiri berasal dari sapaan sang istri yang kerap memberinya semangat. Sejak 2025, nama tersebut digunakan di media sosial dan kemudian dikenal masyarakat melalui berbagai konten aktivitas pemadam kebakaran.

Di tengah meningkatnya laporan kebakaran di Kota Manado, media sosial juga menjadi salah satu tantangan. Hilario mengatakan masyarakat terkadang mengunggah video kebakaran dan menandai akun “Om Damkar”, padahal informasi tersebut belum menjadi laporan resmi.

“Jangan dulu diunggah di media sosial, langsung hubungi kami di Layanan Call Center 112, bebas pulsa,” ujarnya.

Data Call Center 112 Manado menunjukkan hingga 18 September 2026 telah terdapat 311 laporan kebakaran. Menurut Hilario, ketika laporan masuk, hal pertama yang ada dalam pikiran petugas adalah kemungkinan masih adanya orang yang terjebak.

“Yang ada di pikiran kami, ada orang yang terjebak dan perlu diselamatkan. Kami harus cepat-cepat ke lokasi,” katanya.

Namun, perjalanan menuju lokasi juga penuh risiko, mulai dari kemacetan hingga akses jalan yang sempit dan kabel listrik. Bahkan ketika tiba di lokasi, kondisi kebakaran terkadang lebih besar dari laporan awal.

“Kami tidak jago menghadapi kebakaran, tetapi kami terlatih untuk menghadapi kebakaran,” ungkapnya.

Salah satu kejadian yang paling membekas baginya adalah kebakaran Mega Mal Manado pada 16 Mei 2026 yang mengakibatkan seorang karyawan meninggal dunia. Saat itu, keinginan untuk menyelamatkan korban ada, tetapi akses menuju korban telah tertutup kobaran api.

Ia mengakui rasa takut tetap muncul ketika menghadapi situasi berbahaya. Namun, rasa itu harus dikalahkan oleh keinginan untuk menyelamatkan orang lain.

“Rasa takut saya dikalahkan oleh keinginan saya untuk menyelamatkan nyawa,” katanya.

Bagi “Om Damkar”, setiap kebakaran bukan hanya tentang memadamkan api. Di balik seragam dan sirene, ada petugas yang mempertaruhkan keselamatan dirinya untuk memberikan pertolongan kepada masyarakat.

Comments (0)
Add Comment